Ormas

Tempat saya nguli, baru tiga bulan ini pindah gedung.
Jarak dari lokasi lama ke lokasi baru ini bisa dibilang dekat karena masih kurang dari 1Km.

Saat tempat nguli saya itu resmi pindah ke gedung baru, tiba-tiba datang beberapa pemuda berbadan tegap yang mengaku berasal dari sebuah ormas pemuda kedaerahan yang meminta ‘uang keamanan’,
karena merasa sudah punya satpam maka mandor saya pun menolak pemalakan dengan alasan ‘uang keamanan’ tersebut,
lalu masalah ini entah bagaimana cerita-nya yg pasti ormas tersebut masih merasa dongkol karena gagal dapat uang palak.

Lantas saat mandor saya menyewa sepetak lahan kosong di belakang kantor, untuk parkir kendaraan para kuli-nya.
para begundal ormas ini datang lagi memaksa si pemilik lahan untuk mengambil uang parkir 2x lipat dari yg biasa dia ambil,
dengan ancaman keselamatan kendaraan yang diparkir di lahan-nya.

Saya tak habis pikir kenapa ormas semacam ini masih saja ada, saya dengar dari selentingan kabar yang sudah menjadi rahasia umum,
bahwa ormas semacam ini masih ada karena memang ada yang ‘memelihara-nya’.
Pemelihara ormas semacam ini biasanya para demang ataupun opas.
Demang dan opas yang seharusnya melindungi rakyat dan memberantas begundal macam ini malah berlaku sebaliknya,
mengumpulkan mereka dan memberinya legitimasi untuk melakukan hal-hal seperti diatas.
barangkali juga mereka memberi ormas ini legitimasi untuk menjadikan ormas tersebut mesin uang sekaligus tameng dalam memeras rakyatnya.

7 Responses to “Ormas”

  1. paman tyo Says:

    itulah mafia. bajunya bisa geng bisa satgas. intinya adalah berbisnis ketidakamanan atas nama keamanan. opas, demang, atau apalah para hamba hukum itu, malah main mata.

    sekali kita terjerat maka akan jadi sapi perah. tapi untuk kuat melawan, kita harus pakai dobberman yang lebih besar. ujung2nya terjebak lagi.

    betul2 republik sial.

  2. blogombal | Blog Archive » Menawarkan Ketidakamanan atas Nama Keamanan Says:

    [...] pribadi? Bukan. Itu tadi cuma kisah imajiner berdasarkan tuturan Kutu Kupret di Mukelu. Intinya ya premanisme. Kita sama-sama tahu. Kita itu bukan kami, tapi saya dan [...]

  3. spidolhitam Says:

    :) , tidak ada yang benar-benar banyak berubah sejak jaman singosari sampai sekarang ya mas ya?

    tapi ga brarti ga bisa berubah kan kang !?

  4. mantan kyai Says:

    ormas itu sodaranya mandra kah ????

  5. Iman Brotoseno Says:

    Itu budaya kok..
    bagian budaya negeri kita yang ramah tamah

  6. antyo.rentjoko.net » Blog Archive » Menawarkan Ketidakamanan atas Nama Keamanan Says:

    [...] lipat. Pengalaman pribadi? Bukan. Itu tadi cuma kisah imajiner berdasarkan tuturan Kutu Kupret di Mukelu. Intinya ya premanisme. Kita sama-sama tahu. Kita itu bukan kami, tapi saya dan Anda. Sangat [...]

  7. Penoet Says:

    Budaya yang “membumidaya”…


Leave a Reply