Apa jadinya saat satria piningit yang banyak diharapkan menjelma menjadi sesosok karna?,
yang rela menjual harga dirinya pada kurawa dan melawan saudara-saudaranya sendiri pandawa.
Alasan sebenarnya karna membelot pada kurawa untuk membalas dendam pada saudara-saudara tiri-nya yang membedakan dia,
atau membalas dendam terhadap kemiskinan dan ketidakmapanan karena hanya anak seorang sais yang bukan darah biru,
hanya karna sendiri yang tahu.
Memang lantas kenapa dengan karna? salahkah? Mungkin tidak ada yang salah dengan-nya,
sebab dia bukan dewa seperti krishna yang bisa memilih memihak satu sisi tanpa perlu melepaskan panah ataupun memukulkan gada agar tetap terlihat adil,
karna bukan pula begawan seperti bhisma yang meski gugur dipihak kurawa, namun pandawa dan para jelata tetap menghormati-nya.
Karna hanya manusia yang bisa punya dendam, dan dengan dendam-nya itu dia membuat pilihan.
Dengan pilihan-nya itu selamanya dia dikenang sebagai orang yang mengkhianati saudaranya dan menjadi kacung kurawa.
Saat menonton acara barometer di SCTV semalam saya merasa satria piningit yang kita punya memang telah berubah menjadi karna.
Melawan “saudara-saudara” nya para aktifis Pius Lutrilanang, Budiman Sudjatmiko, dan Dita Indah Sari berdalih membelot masuk ke dalam partai besar dan mapan sebagai martir untuk merubah partai tersebut dari dalam.
Belum usai satria piningit ini menjadi karna, pagi ini saya baca mereka berubah lagi menjadi Buto yang mengamuk membabi-buta menghancurkan sekelilingnya.
Lantas kepada siapa lagi jelata di negeri ini mesti menitipkan harapan nya !?