Karna

Apa jadinya saat satria piningit yang banyak diharapkan menjelma menjadi sesosok karna?,
yang rela menjual harga dirinya pada kurawa dan melawan saudara-saudaranya sendiri pandawa.
Alasan sebenarnya karna membelot pada kurawa untuk membalas dendam pada saudara-saudara tiri-nya yang membedakan dia,
atau membalas dendam terhadap kemiskinan dan ketidakmapanan karena hanya anak seorang sais yang bukan darah biru,
hanya karna sendiri yang tahu.

Memang lantas kenapa dengan karna? salahkah? Mungkin tidak ada yang salah dengan-nya,
sebab dia bukan dewa seperti krishna yang bisa memilih memihak satu sisi tanpa perlu melepaskan panah ataupun memukulkan gada agar tetap terlihat adil,
karna bukan pula begawan seperti bhisma yang meski gugur dipihak kurawa, namun pandawa dan para jelata tetap menghormati-nya.
Karna hanya manusia yang bisa punya dendam, dan dengan dendam-nya itu dia membuat pilihan.
Dengan pilihan-nya itu selamanya dia dikenang sebagai orang yang mengkhianati saudaranya dan menjadi kacung kurawa.

Saat menonton acara barometer di SCTV semalam saya merasa satria piningit yang kita punya memang telah berubah menjadi karna.
Melawan “saudara-saudara” nya para aktifis Pius Lutrilanang, Budiman Sudjatmiko, dan Dita Indah Sari berdalih membelot masuk ke dalam partai besar dan mapan sebagai martir untuk merubah partai tersebut dari dalam.

Belum usai satria piningit ini menjadi karna, pagi ini saya baca mereka berubah lagi menjadi Buto yang mengamuk membabi-buta menghancurkan sekelilingnya.
Lantas kepada siapa lagi jelata di negeri ini mesti menitipkan harapan nya !?

Ormas

Tempat saya nguli, baru tiga bulan ini pindah gedung.
Jarak dari lokasi lama ke lokasi baru ini bisa dibilang dekat karena masih kurang dari 1Km.

Saat tempat nguli saya itu resmi pindah ke gedung baru, tiba-tiba datang beberapa pemuda berbadan tegap yang mengaku berasal dari sebuah ormas pemuda kedaerahan yang meminta ‘uang keamanan’,
karena merasa sudah punya satpam maka mandor saya pun menolak pemalakan dengan alasan ‘uang keamanan’ tersebut,
lalu masalah ini entah bagaimana cerita-nya yg pasti ormas tersebut masih merasa dongkol karena gagal dapat uang palak.

Lantas saat mandor saya menyewa sepetak lahan kosong di belakang kantor, untuk parkir kendaraan para kuli-nya.
para begundal ormas ini datang lagi memaksa si pemilik lahan untuk mengambil uang parkir 2x lipat dari yg biasa dia ambil,
dengan ancaman keselamatan kendaraan yang diparkir di lahan-nya.

Saya tak habis pikir kenapa ormas semacam ini masih saja ada, saya dengar dari selentingan kabar yang sudah menjadi rahasia umum,
bahwa ormas semacam ini masih ada karena memang ada yang ‘memelihara-nya’.
Pemelihara ormas semacam ini biasanya para demang ataupun opas.
Demang dan opas yang seharusnya melindungi rakyat dan memberantas begundal macam ini malah berlaku sebaliknya,
mengumpulkan mereka dan memberinya legitimasi untuk melakukan hal-hal seperti diatas.
barangkali juga mereka memberi ormas ini legitimasi untuk menjadikan ormas tersebut mesin uang sekaligus tameng dalam memeras rakyatnya.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.