Bijak-kah !?!

Kemarin pagi saat mau pergi ke tempat nguli.
Di bawah tanah di terminal Blok-M, di tempat yang biasa jualan cemilan di bawah tangga itu.
Saya lihat seorang ibu berkerudung sedang santai sarapan cemilan disitu,
Hmm .. saya pikir masih wajar jika ibu-ibu tidak shaum di bulan ramadhan ini,
karena wanita ada kemungkinan sedang mendapat halangan, sehingga tidak shaum.
Tapi ada satu hal yang menggelitik saya, yaitu bagaimana dia makan di tempat umum dan kerudung nya,
sebab menurut saya mengenakan kerudung di negeri ini adalah suatu hidayah yang besar bagi yang mengenakannya,
dan saya pikir seseorang yang mendapatkan hidayah sebesar itu sudah selayaknya menjadi lebih bijak,
tetapi makan dan minum di tempat umum di siang hari pada saat bulan ramadhan menurut saya adalah tindakan yang sangat tidak bijak.
(Maaf tulisan ini tidak bertujuan untuk menyudutkan atau menghakimi golongan tertentu)

Posted in my life. 1 Comment »

JUBING

Sebulan terakhir ini saya punya dua playlist didalam music-player di komputer.
playlist pertama berisi lagu-lagu normal biasa (ber-lirik).
playlist yg kedua berisi lagu-lagu instrumentalia, pokoknya lagu2 penuh smangat tanpa lirik sama-sekali.

Playlist pertama ini kurang saya pilih akhir-akhir ini.
karena gak bisa kita pungkiri hampir 80% lagu-lagu dengan lirik didalamnya pasti mengandung kata-kata cinta,
baik itu memuja-nya, mengenang-nya ataupun menghujat cinta.
Dan saat-saat “Sakit” seperti sekarang ini mendengar segala sesuatu berbau cinta bisa membuat saya smakin terpuruk,
lantas jika saya mendengarkan lagu2 macam ini disaat kerjaan menumpuk bisa berabe, bisa-bisa kerjaan saya gak akan pernah selesai.

Maka lagu2 ini saya dengarkan saat saya ingin menikmati rasa “sakit” itu.
Hyupp saya orang yang mudah terbuai oleh kata-kata,
dan dengan kata-kata cinta pada lagu-lagu itulah saya bisa menikmati rasa “sakit” itu.
Saat menikmati rasa sakit itu saya bisa menjadi seseorang yang berbeda.

Pada playlist kedua ini umumnya hanya berisi permainan gitar atau bass saja.
dari banyaknya lagu-lagu yang ada playlist kedua ini yang saat ini sedang menjadi favorit saya adalah
lagu-lagu milik Jubing Kristianto.
Saya mengetahui mas Jubing ini dari review di blog ibu ini.
Setahu saya mas Jubing ini sudah mengeluarkan 2 album yaitu Becak Fantasy(2007) dan Hujan Fantasy(2008).
Semua lagu pada kedua album itu membuat saya terpana dan terheran-heran,
karena hanya dengan gitar beliau dapat menghasilkan musik yang begitu ‘ramai’ bak orkestra,
selain itu pada album Becak Fantasy beliau banyak menyuguhkan lagu-lagu yg mungkin sekarang ini sudah sangat jarang kita dengar,
seperti lagu becak fantasy dan burung kakatua yg mungkin sekarang hanya dapat kita dengar di kelas-kelas taman kanak-kanak.

Lalu saat sebualan yg lalu saya dengar bahwa mas jubing sudah mengeluaran album baru-nya,
saya pun langsung mencari album baru ini.
Dan lagi-lagi musik mas jubing membuat saya terpana,
bagaimana tidak pada album kedua ini beliau bisa menampilkan Bohemian Rhapsody milik Queen dengan gitar
tanpa menghilangkan spirit dari lagu asli-nya sendiri, lalu pada gundul pacul, beliau menghadirkan musik ini dengan tanpa menghilangkan rasa gembira.

Pokoknya mas yang satu ini bagi saya yang awam tentang gitar adalah seorang maestro,
dia dengansukses meng-eksplorasi setiap nada yg bisa dihasilkan oleh sebuah gitar.
Tapi ada satu yang saya penasaran, kenapa kedua album-nya selalu berakhiran dengan kata “Fantasy”.
Jangan-jangan untuk album selanjutnya bakal berjudul “Wild Fantasy” bwahahahaa … (Saru Mode : ON)

Kualitas VS Kuantitas

Kemarin ga tau kenapa keingetan sama film A Beautiful Mind.
Bukan keingetan akting keren Russel Crowe sebagai ’si gila’ John Nash,
tapi malah inget sama teori-nya yang bikin dia dapet Nobel di bidang ekonomi.
Kurang lebih teorinya itu begini (Kalo ga salah)
“Kualitas demand terhadap suatu barang pada suatu titik dapat berbanding terbalik dengan kuantitas demand tersebut”

Mmmm … hubungan antara kualitas dan kuantitas di bidang ekonomi memang bisa dibilang angin-anginan.
mereka ini bisa saling mendukung, tapi bisa juga saling menjatuhkan.
Dan karena ekonomi bukan-lah ilmu pasti seperti halnya aljabar,
maka ada banyak variable yg tidak tetap pada hukum ekonomi khususnya pada hubungan kualitas dan kuantitas ini.

Ok, cukup sekian dulu kuliah singkat ekonomi (yang tidak dapat dipertanggungjawab-kan kebenaran nya ini :p ).

Sebenarnya bukan dari sisi ekonomi itu yang pengen saya bahas,
tapi penerapan hubungan kausalitas kuantitas dan kualitas dalam bidang lain.
misalnya dalam suatu hubungan. Baik itu hubungan kekasih,pernikahan,persahabatan,ataupun rekan kerja.
Jika kita asosiasikan kuantitas dengan variable waktu, apakah teori John Nash diatas berlaku juga ?

Apakah dalam suatu hubungan, lama waktu hubungan tersebut dapat dijadikan patokan kualitas hubungan itu ?.

Dalam hubungan kekasih mungkin yang paling sering diakibatkan dari kausalitas ini adalah ‘jenuh’,
yupp sering sekali hubungan kekasih ini mendukung teori John Nash,
dimana pada suatu titik yang disebut ‘jenuh’ ini kuantitas waktu dan kualitas hubungan berbanding terbalik.
Tapi menurut dugaan saya kejadian diatas biasanya terjadi jika hubungan tersebut bersifat stagnan,
dimana titik kualitas selalu berada pada titik yang sama, tanpa ada usaha peningkatan terhadap titik kualitas.

Dalam hubungan rekan kerja, teori John Nash ini bisa berlaku juga.
Ada kondisi dimana semakin lama seseorang menjadi rekan kerja kita maka dia juga akan menjadi rival terberat kita.
Tetapi kondisi ini juga tidak bersifat mutlak, tergantung bagaimana kita menempatkan arti ‘rivalitas’ itu,
apakah dalam arti positif dimana rivalitas menjadi pemicu bagi kita untuk bekerja lebih baik lagi?,
ataukah dalam arti negatif dimana kita menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan rival kita.

Lantas bagaimana dalam hubungan persahabatan ?
aahh .. untuk yang satu ini saya sendiri sekarang ini masih dalam tahap re-set (set ulang).
sebab definisi persahabatan bagi saya saat ini menjadi buram.
Jika suatu pertemanan umum-nya didasari karena adanya suatu kesamaan,
apakah itu berarti persahabatan adalah pertemanan dengan kuantitas kesamaan yang lebih tinggi?
apakah karena sama-sama fanatik suatu klub bola, maka otomatis kita menjadi sahabat?
atau karena sudah lama berteman lantas juga otomatis menjadi sahabat?.
Menurut saya kualitas dalam sahabat sama sekali tidak memiliki kausalitas dengan hitungan kuantitas,
hubungan ini jauh lebih kompleks, yang mungkin bisa menyainginya hanyalah hubungan pernikahan atau keluarga
(Tentunya ini dalam konsep hablum minannass).

Jadi apakah teori John Nash itu juga bisa kita jadikan patokan dalam kehidupan?
saya kira ilmu kehidupan adalah ilmu yang amat sangat tinggi tingkat kompleksitas-nya,
sehingga tidak dapat disejajarkan dengan kajian keilmuan lain-nya.

Posted in my life. 1 Comment »